Momen kebersamaan adalah saat-saat yang didambakan oleh setiap orang di muka bumi ini. Saat dimana kita saling menyayangi, saling mengasihi, saling mencintai satu sama lain. Sebuah keindahan yang tidak dapat terlukiskan oleh kata-kata mampu meresap ke dalam ujung kalbu, membuat setiap insan selalu merindukan setiap saat dalam momen kebersamaan.
Dalam Islam sendiri, rasa kebersamaan selalu dijadikan tonggak dalam membangun sebuah peradaban. Tentu masih terang dalam sejarah-sejarah dunia yang menceritakan bagaimana kearifan para pemerintah islam dalam membangun sebuah masyarakat yang mempunyai rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan toleransi yang tinggi, sehingga seorang yang non muslim pun lebih memilih diperintah oleh kaum muslimin ketimbang kaumnya sendiri. Namun entah apa yang terjadi saat ini, ketika islam dengan sangat terangnya menekankan rasa kebersamaan dalam setiap interaksi kita dengan insan yang lain, yang terjadi ialah keegoisan yang mewarnai setiap jejak dalam pergaulan umat ini. Keadaan ini tentu merapuhkan kekuatan islam yang menjadikan rasa kebersamaan sebagai tameng ketiga setelah Al-Qur'an wa Hadist. Begitu banyak diantara kita masih terlalu bangga dengan setiap kepunyaan yang kita miliki baik itu materi, kekuasaan, dll. Padahal dalam islam kita tidak mengenal sistem kasta yang dalam realitanya seorang tukang becak sama saja dengan seorang pengusaha. Pengaplikasiannya tentu dapat kita lihat didalam masjid ketika dimana seorang pejabat dapat duduk bersampingan dengan seorang pedagang eceran, karena jika raga ini bersujud sembah di hadapan Allah swt maka tiada satupun manusia bisa bersombong diri daripada apa yang ada pada dirinya. Oleh karena itu maka marilah kita saling berangkulan tangan, saling menyatukan asa, dan saling hidup dalam rasa kebersamaan karena jika rasa itu telah merasuk dalam setiap hati-hati umat muslimin maka bukan tidak mungkin kejayaan dunia ini dapat kita rengkuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar